Jangan Panik, Ini 5 Cara Selamatkan Hewan Peliharaanmu Saat Bencana
Ringkasan: Indonesia mencatat 1.256 kejadian banjir, 732 cuaca ekstrem, dan 624 tanah longsor hingga November 2025 — dan hewan peliharaan hampir selalu jadi korban yang terlupakan. Lima langkah di bawah ini: tas siaga khusus hewan, rencana evakuasi, teknik menangani hewan panik, larangan mengikat hewan saat bencana, dan pemantauan kesehatan pasca-bencana.
Kenapa Hewan Peliharaan Sering Terlupakan Saat Bencana?

Sampai November 2025, Indonesia mengalami 1.256 kejadian banjir, 732 cuaca ekstrem, dan 624 tanah longsor, menurut data BNPB yang dikutip Fawna.id. Di Aceh saja, lebih dari 27.000 ekor hewan dan ternak dilaporkan mati akibat banjir, dengan kerugian ditaksir mencapai Rp27–55 miliar.
Yang membuat situasi ini lebih rumit: menurut kajian FIKKIA Universitas Airlangga (mengacu pada Apriyani dkk., 2022), Indonesia belum memiliki regulasi khusus untuk evakuasi hewan saat bencana. Penanggulangan bencana secara umum diatur UU Nomor 24 Tahun 2007, dengan tiga tahap — prabencana, tanggap darurat, pascabencana — yang dijalankan BNPB di tingkat nasional dan BPBD di tingkat daerah. Karena belum ada aturan turunan yang spesifik soal hewan, kewenangan antara BNPB, BPBD, dan BKSDA dalam aspek ini masih tumpang tindih. Artinya, keselamatan hewan peliharaan sebagian besar bergantung pada kesiapan pemiliknya sendiri.
1. Siapkan Tas Siaga Bencana Khusus untuk Hewan

Prinsip yang disarankan Fawna.id: satu tas untuk satu hewan. Isi minimal yang perlu disiapkan:
| Item | Jumlah/Catatan |
|---|---|
| Makanan kering (dry food) | Cukup untuk 3–5 hari |
| Makanan basah | 3–4 kaleng |
| Air minum bersih | Dalam botol tertutup, terpisah dari air minum manusia |
| Mangkuk lipat | Ringan, mudah dibawa |
| Tali/harness dan kandang portabel | Untuk kontrol dan transportasi hewan |
| Obat rutin hewan (jika ada) | Simpan bersama catatan dosis |
| Foto hewan + tanda pengenal | Untuk identifikasi jika terpisah dari pemilik |
Daftar ini melengkapi prinsip umum tas siaga bencana keluarga — dokumen penting, obat-obatan, dan air untuk bertahan 3 hari — yang menurut panduan BPBD dan Kementerian Kesehatan sebaiknya dicek ulang setiap beberapa bulan agar makanan dan obat tidak kedaluwarsa.
Untuk hewan yang gampang cemas saat suasana rumah berubah mendadak — misalnya anabul yang trauma dengan suara petir dan hujan deras — siapkan juga selimut atau kain familiar yang berbau rumah, karena aroma yang dikenal bisa membantu menenangkan mereka di tengah kepanikan evakuasi.
2. Buat Rencana Evakuasi dan Kontak Darurat Sebelum Bencana Terjadi

Menurut liputan IDN Times, langkah pra-bencana yang disarankan adalah menyiapkan jalur evakuasi, nomor kontak bantuan, dan peralatan pemindahan hewan sebelum peringatan dini datang — bukan saat air sudah masuk rumah. Jika ada peringatan banjir, hewan sebaiknya segera dipindahkan ke lantai atas atau area kering, bersama makanan dan mainannya.
Di Jakarta, relawan penyelamatan hewan menyarankan menghubungi 112 atau Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) untuk mendapat bantuan evakuasi hewan, menurut wawancara Vice Indonesia dengan relawan lapangan. Simpan nomor-nomor ini di ponsel dan di dalam tas siaga dalam bentuk cetak, karena sinyal seluler kerap terganggu saat bencana besar.
BNPB sendiri telah menerbitkan Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana sebagai panduan resmi kesiapsiagaan keluarga — termasuk konsep bertahan mandiri 3 hari pertama sebelum bantuan tiba, seperti dicatat Kompasiana.
3. Kuasai Teknik Evakuasi Sesuai Karakter Hewan

Kucing dan anjing bereaksi berbeda saat panik, dan teknik evakuasi yang salah justru membuang waktu berharga. Menurut panduan Birawa Vet, cara aman menangani kucing yang ketakutan saat evakuasi banjir adalah membungkusnya dengan handuk atau selimut besar hingga menutup seluruh tubuh termasuk cakar, lalu memasukkannya ke carrier. Jangan mengejar kucing yang lari — itu hanya membuang waktu. Jika carrier tidak tersedia, kardus tebal dengan lubang udara bisa jadi solusi darurat, idealnya dikerjakan dua orang: satu memegang wadah, satu membuka pintu.
Untuk hewan yang sensitif terhadap suhu ekstrem — seperti kucing yang kepanasan saat cuaca terik — kondisi stres akibat bencana bisa memperparah gejala kelelahan panas, jadi pastikan mereka tetap terhidrasi dan berada di tempat teduh selama proses evakuasi berlangsung.
4. Jangan Pernah Mengikat Hewan Saat Evakuasi Darurat

Ini poin yang paling sering diabaikan pemilik hewan. Panduan evakuasi mandiri dari BPBD Sugapa dan BPBD Malinau sama-sama menekankan: jika punya hewan peliharaan, jangan tinggalkan mereka dalam keadaan terikat. Hewan yang terikat berisiko tenggelam saat air naik atau tidak bisa menyelamatkan diri jika terpisah dari pemilik. Lepaskan ikatannya, atau bawa langsung dalam pet carrier jika masih memungkinkan.
Untuk risiko kebakaran, langkah tambahan yang disarankan mengacu pada pedoman NFPA (National Fire Protection Association) adalah memasang stiker peringatan hewan peliharaan di pintu atau jendela rumah, agar petugas pemadam tahu ada hewan di dalam, serta memastikan alat pemadam api ringan (APAR) tersedia di dapur dan tiap lantai rumah.
5. Pantau Kesehatan Hewan Selama 1–2 Minggu Pascabencana

Bahaya tidak selesai begitu air surut. Menurut Birawa Vet, ada tiga ancaman kesehatan utama pasca-banjir yang perlu diwaspadai pemilik hewan:
- Leptospirosis — berasal dari air yang tercemar urine tikus, sangat berbahaya khususnya untuk anjing.
- Infeksi jamur kulit — akibat kontak berkepanjangan dengan air kotor.
- Infeksi saluran pencernaan — dari hewan yang tidak sengaja minum air banjir.
Anjing dan kucing perlu dipantau selama 1–2 minggu pascabanjir, dan segera dibawa ke dokter hewan bila muncul gejala seperti demam, lesu, atau nafsu makan menurun. Kebiasaan mengecek kandang dan kondisi kesehatan hewan secara rutin jadi lebih penting dari biasanya di periode ini, karena gejala awal penyakit pasca-bencana sering muncul samar dan mudah terlewat.
Menjaga status vaksin tetap lengkap — termasuk vaksin rabies untuk anjing dan kucing — juga memperkecil risiko penularan penyakit saat hewan terpaksa kontak dengan hewan liar atau hewan tetangga selama masa pengungsian. Jika pemilik ragu apakah kondisi hewannya normal atau sudah mengarah ke sakit, panduan mengenali tanda-tanda hewan peliharaan sakit bisa jadi rujukan cepat sebelum memutuskan ke dokter hewan.
FAQ — Evakuasi Hewan Peliharaan Saat Bencana
Apakah tempat pengungsian di Indonesia menerima hewan peliharaan?
Kebijakan berbeda-beda tiap posko dan belum diatur secara seragam secara nasional, karena Indonesia belum punya regulasi khusus evakuasi hewan. Sebaiknya hubungi BPBD setempat atau nomor 112 sebelum bencana terjadi untuk memastikan opsi penampungan hewan di wilayah Anda.
Berapa lama persediaan makanan hewan yang perlu disiapkan dalam tas siaga?
Merujuk prinsip tas siaga bencana keluarga yang berlaku umum, siapkan makanan kering untuk 3–5 hari dan 3–4 kaleng makanan basah per hewan, mengikuti standar bertahan hidup mandiri 3 hari sebelum bantuan tiba.
Apa kesalahan paling umum saat mengevakuasi hewan peliharaan?
Mengikat hewan saat air mulai naik. Panduan evakuasi banjir dari BPBD menegaskan hewan yang terikat berisiko tenggelam karena tidak bisa menyelamatkan diri sendiri jika terpisah dari pemiliknya.
Ditulis oleh Tim Editorial pchotdeals, disusun berdasarkan data BNPB dan sumber kesehatan hewan terverifikasi.