Psikologi Pemilik Anjing vs Kucing, Ternyata Beda Bentuk Kepribadianmu
Ringkasan: Riset psikologi kepribadian menunjukkan pemilik anjing cenderung lebih ekstrover, ramah, dan disiplin, sementara pemilik kucing cenderung lebih terbuka pada hal baru dan lebih sensitif secara emosional. Pola ini konsisten di beberapa studi independen, meski bukan aturan mutlak untuk setiap individu.
Apa Itu Psikologi Pemilik Anjing vs Kucing?

Psikologi pemilik anjing vs kucing adalah bidang kajian yang meneliti apakah preferensi seseorang terhadap anjing atau kucing berkorelasi dengan pola kepribadian tertentu. Fokus utamanya ada pada lima dimensi kepribadian klasik dalam psikologi, yang dikenal sebagai Big Five: ekstraversi, keramahan (agreeableness), kehati-hatian (conscientiousness), neurotisisme, dan keterbukaan (openness).
Topik ini bukan sekadar obrolan santai di media sosial. Sejak dekade lalu, sejumlah peneliti psikologi kepribadian mencoba menguji secara empiris apakah stereotip “pecinta anjing itu ramai, pecinta kucing itu pendiam” punya dasar ilmiah atau cuma bias budaya pop.
Studi Paling Sering Dirujuk: Gosling, Sandy, dan Potter (2010)

Penelitian paling banyak dikutip soal ini datang dari Samuel Gosling bersama Carson Sandy dan Jeff Potter dari University of Texas at Austin, dipublikasikan di jurnal Anthrozoös tahun 2010. Mereka mensurvei 4.565 responden secara daring, meminta tiap orang mengidentifikasi diri sebagai “orang anjing”, “orang kucing”, “keduanya”, atau “tidak keduanya”, lalu mengisi Big Five Inventory 44 item.
Hasilnya cukup konsisten dengan dugaan umum: orang yang mengidentifikasi diri sebagai pemilik anjing menunjukkan skor lebih tinggi pada ekstraversi, keramahan, dan kehati-hatian, tetapi lebih rendah pada neurotisisme dan keterbukaan dibanding pemilik kucing. Sebaliknya, pemilik kucing cenderung lebih terbuka terhadap pengalaman baru dan sedikit lebih neurotis secara skor rata-rata.
Seberapa Besar Perbedaannya?

Perbedaan ini bukan sekadar signifikan secara statistik di atas kertas — beberapa laporan turunan dari studi Gosling memperkirakan skala perbedaannya. Menurut liputan Modern Dog Magazine atas riset tersebut, pemilik anjing tercatat sekitar 15% lebih ekstrover dan 13% lebih ramah dibanding pemilik kucing, serta sekitar 11% lebih tinggi pada dimensi kehati-hatian.
| Dimensi Big Five | Kecenderungan Pemilik Anjing | Kecenderungan Pemilik Kucing |
|---|---|---|
| Ekstraversi | Lebih tinggi | Lebih rendah |
| Keramahan (Agreeableness) | Lebih tinggi | Lebih rendah |
| Kehati-hatian (Conscientiousness) | Lebih tinggi | Lebih rendah |
| Neurotisisme | Lebih rendah | Lebih tinggi |
| Keterbukaan (Openness) | Lebih rendah | Lebih tinggi |
Sumber: Gosling, Sandy, & Potter (2010), dipublikasikan di jurnal Anthrozoös, University of Texas at Austin.
Kenapa Pola Ini Masuk Akal Secara Perilaku?

Salah satu penjelasan yang diajukan Gosling sendiri berkaitan dengan sifat alami kedua hewan ini. Anjing pada dasarnya makhluk sosial yang butuh interaksi rutin, kepatuhan pada rutinitas, dan pelatihan — kondisi yang cocok dengan orang berkepribadian ekstrover, ramah, dan disiplin. Kucing, di sisi lain, lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung pada rutinitas ketat, sehingga menarik minat orang yang lebih fleksibel dan terbuka pada hal-hal di luar kebiasaan.
Gosling juga mencatat kemungkinan kaitan dengan sejarah domestikasi: anjing telah hidup berdampingan dengan manusia jauh lebih lama, diperkirakan lebih dari 14.000 tahun, sehingga sifatnya lebih “konvensional” dibanding kucing yang baru terdomestikasi belakangan dan mempertahankan lebih banyak independensi liarnya.
Jika kamu penasaran apakah anjingmu sendiri menunjukkan tanda-tanda cemas atau kurang nyaman dengan rutinitas barunya, ada baiknya kenali dulu penyebab dan cara mengatasi anabul yang takut hujan — karena pola perilaku hewan ikut memengaruhi bagaimana pemiliknya beradaptasi secara emosional.
Riset Lanjutan yang Memperkuat (dan Menambah Nuansa) Temuan Ini

Studi Gosling bukan satu-satunya. Beberapa penelitian setelahnya memberi konteks tambahan:
- Studi dominasi 2015 — dikutip Discover Magazine, penelitian ini menemukan pemilik anjing memiliki skor lebih tinggi pada sifat terkait dominasi dibanding pemilik kucing, sejalan dengan sifat anjing yang lebih menuntut kepemimpinan dan kepatuhan dalam relasi dengan pemiliknya.
- Studi resiliensi Australia (2024), dipublikasikan di jurnal yang sama, menemukan pemilik anjing cenderung menunjukkan tingkat resiliensi lebih tinggi, sementara pemilik kucing menunjukkan skor neurotisisme lebih tinggi — hasil ini konsisten dengan pola yang lebih dulu ditemukan Gosling lebih dari satu dekade sebelumnya.
- Beberapa kajian berbasis 16PF (Sixteen Personality Factor Questionnaire) yang dirujuk Discover Magazine juga menunjukkan pemilik kucing punya profil kepribadian yang lebih dekat dengan orang-orang kreatif, yang secara umum cenderung kurang konvensional.
Penting dicatat: psikolog yang menulis di Psychology Today mengingatkan bahwa studi Gosling punya keterbatasan metodologis, terutama karena identifikasi “orang anjing” atau “orang kucing” bersifat swa-laporan (self-report), bukan diverifikasi lewat kepemilikan hewan yang sebenarnya. Artinya, hasil ini menggambarkan pola rata-rata pada level populasi — bukan prediksi pasti untuk setiap individu.
Apakah Ini Berarti Kepribadianmu “Ditentukan” oleh Pilihan Hewan Peliharaan?

Tidak. Korelasi bukan kausalitas. Data menunjukkan pola rata-rata dari ribuan responden, bukan aturan yang berlaku mutlak untuk satu orang. Banyak pemilik anjing yang pendiam dan reflektif, sama seperti banyak pemilik kucing yang supel dan penuh energi sosial.
Yang lebih masuk akal dipahami dari riset ini adalah arah hubungannya bisa dua arah: kepribadian tertentu membuat orang tertarik memilih hewan yang “cocok” dengan gaya hidupnya, sekaligus proses merawat hewan itu sendiri turut membentuk kebiasaan dan pola emosional si pemilik dari waktu ke waktu.
Kalau kamu baru memutuskan untuk memelihara kucing dan ingin memastikan mulai dari langkah yang benar, panduan lengkap merawat kucing dari bayi bisa jadi rujukan awal yang praktis. Sebaliknya, jika kamu tipe yang tertarik membangun rutinitas dan ikatan lebih terstruktur, proses penjinakan anjing dari bayi hingga dewasa justru bisa jadi pengalaman yang selaras dengan kecenderungan kepribadian ekstrover dan disiplin.
Cara Mengenali Kecenderungan Kepribadianmu Lewat Preferensi Hewan

Berikut langkah sederhana untuk merefleksikan pola ini pada dirimu sendiri, bukan sebagai tes psikologi formal, melainkan sebagai bahan refleksi:
- Perhatikan alasan utamamu memilih anjing atau kucing. Apakah karena butuh teman aktif untuk jalan-jalan dan rutinitas sosial (cenderung ekstrover), atau karena menyukai kemandirian dan fleksibilitas waktu (cenderung lebih terbuka dan mandiri)?
- Amati bagaimana kamu merespons perubahan rutinitas. Pemilik anjing dalam studi Gosling cenderung lebih nyaman dengan struktur dan jadwal tetap; pemilik kucing cenderung lebih toleran terhadap ambiguitas.
- Cek pola interaksi sosialmu di luar rumah. Skor ekstraversi yang lebih tinggi pada pemilik anjing sejalan dengan kebiasaan sosial seperti sering mengajak anjing jalan-jalan ke ruang publik, yang otomatis memicu interaksi dengan orang lain.
- Jangan jadikan hasil ini sebagai label kaku. Gunakan sebagai bahan refleksi ringan, bukan diagnosis kepribadian yang menggantikan asesmen psikologi resmi.
Apa pun preferensimu, kesehatan hewan tetap jadi prioritas yang tidak boleh diabaikan. Pastikan vaksinasi rabies untuk anjing dan kucing di rumahmu selalu update, karena ini menyangkut keselamatan hewan sekaligus keluarga.
Ketika Hewan Peliharaan Ikut Memengaruhi Kondisi Emosional Pemiliknya

Relasi antara kepribadian dan hewan peliharaan sebenarnya berjalan dua arah. Hewan yang stres bisa memengaruhi suasana rumah dan tingkat stres pemiliknya, begitu pula sebaliknya. Kalau kamu mulai melihat perubahan perilaku pada hewan peliharaanmu — entah anjing atau kucing — ada baiknya kenali lima tanda hewan peliharaan mengalami stres dan cara mengatasinya sebelum kondisinya memengaruhi ikatan kalian berdua.
FAQ — Psikologi Pemilik Anjing vs Kucing
Apa itu psikologi pemilik anjing vs kucing?
Psikologi pemilik anjing vs kucing adalah kajian yang meneliti korelasi antara preferensi terhadap anjing atau kucing dengan pola kepribadian Big Five seseorang, berdasarkan riset seperti Gosling, Sandy, dan Potter (2010).
Apakah pemilik anjing benar-benar lebih ekstrover dari pemilik kucing?
Berdasarkan studi terhadap 4.565 responden oleh Gosling dkk. (2010), pemilik anjing rata-rata menunjukkan skor ekstraversi, keramahan, dan kehati-hatian lebih tinggi dibanding pemilik kucing. Namun ini pola rata-rata populasi, bukan aturan mutlak untuk setiap individu.
Apakah memelihara kucing membuat seseorang lebih neurotis?
Riset menunjukkan korelasi, bukan sebab-akibat langsung. Pemilik kucing cenderung memiliki skor neurotisisme dan keterbukaan lebih tinggi dibanding pemilik anjing, tetapi arah hubungannya bisa dua arah — kepribadian memengaruhi pilihan hewan, dan merawat hewan juga bisa membentuk kebiasaan emosional dari waktu ke waktu.
Artikel ini disusun berdasarkan sintesis riset psikologi kepribadian yang telah dipublikasikan dan ditinjau sejawat (peer-reviewed), termasuk Gosling, Sandy, & Potter (2010, Anthrozoös) dan studi lanjutan terkait.