58 Anjing Positif Rabies di Toraja Utara, Warga Wajib Waspada
Ringkasan: Dinas Perikanan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Toraja Utara mencatat 58 anjing positif rabies dari 438 sampel yang diperiksa sepanjang Januari–Juni 2026. Angka ini disertai laporan korban meninggal dunia akibat gigitan anjing peliharaan, sehingga warga diminta segera memvaksinasi hewan peliharaan dan melapor jika digigit.
Apa itu Kasus 58 Anjing Positif Rabies di Toraja Utara?

Kasus ini merujuk pada temuan Dinas Perikanan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan (Disperikanakeswan) Kabupaten Toraja Utara: dari 438 sampel kepala anjing dan kucing yang diperiksa di Laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros sepanjang Januari–Juni 2026, sebanyak 58 ekor anjing dinyatakan positif rabies. Sampel diambil dari hewan yang sebelumnya menggigit manusia, sebagai bagian dari prosedur konfirmasi rabies standar.
Mengapa Angka Ini Penting untuk Diwaspadai di 2026?

Toraja Utara memang punya rekam jejak panjang sebagai salah satu kantong rabies di Sulawesi Selatan. Hingga awal Juli 2026, Disperikanakeswan telah menerima total 477 sampel kepala anjing dan kucing untuk diperiksa, dengan sisa sampel dari awal Juli masih dalam proses pengiriman dan pemeriksaan laboratorium — artinya angka 58 kemungkinan masih akan bertambah.
Sebagai pembanding, sepanjang tahun 2025 terdapat 967 sampel yang diperiksa, dengan 62 anjing dinyatakan positif rabies dan 905 sampel lainnya negatif. Rasio positif Januari–Juni 2026 (58 dari 438, sekitar 13%) memang lebih rendah dibanding rasio 2025, tapi jumlah kematian akibat rabies di daerah ini yang membuat kewaspadaan tetap harus tinggi.
Yang memperberat situasi: dalam kurun waktu singkat, dua warga Toraja Utara dilaporkan meninggal dunia dengan indikasi rabies. Seorang pria berusia 33 tahun meninggal di RS Elim Rantepao pada Sabtu, 4 Juli 2026, setelah terinfeksi rabies akibat gigitan anjing peliharaannya sendiri dua bulan sebelumnya. Kasus ini terjadi hanya berselang sekitar satu bulan dari kematian seorang anak di wilayah Malango akibat gigitan anjing rabies. Kepala Dinas Perikanan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Toraja Utara turut menegaskan bahwa hewan muda sekalipun — termasuk anak anjing — tetap berisiko membawa virus rabies.
Data Resmi: Perbandingan Kasus Rabies Toraja Utara

| Periode | Sampel Diperiksa | Positif Rabies | Negatif | Sumber |
|---|---|---|---|---|
| Jan–Jun 2026 | 438 | 58 | 380 | Disperikanakeswan Toraja Utara via Tribun Timur |
| 2025 (setahun penuh) | 967 | 62 | 905 | Disperikanakeswan Toraja Utara via Tribun Timur |
| Awal Juli 2026 | Bagian dari 477 total, proses lanjutan | Belum final | — | Disperikanakeswan Toraja Utara via Tribun Timur |
Catatan: Selisih 477 dan 438 (=39 sampel) adalah sampel yang baru masuk awal Juli 2026 dan masih menunggu proses pengiriman/hasil laboratorium.
Bagaimana Prosedur Pemeriksaan Sampel Bekerja?

Setiap kali ada laporan gigitan hewan penular rabies (HPR) di Toraja Utara, alurnya mengikuti protokol berikut:
- Penanganan awal korban: setiap korban gigitan langsung mendapat suntikan vaksin anti rabies (VAR) pertama di puskesmas, tanpa menunggu hasil laboratorium.
- Pengiriman sampel: kepala hewan yang menggigit dikirim ke BBVet Maros untuk pemeriksaan jaringan otak, guna memastikan status rabiesnya.
- Waktu tunggu hasil: hasil pemeriksaan laboratorium umumnya diterima sekitar tujuh hingga sepuluh hari setelah sampel dikirim.
- Tindak lanjut jika positif: apabila hasil laboratorium menunjukkan hewan positif rabies, korban wajib melanjutkan vaksinasi hingga dosis lengkap sesuai prosedur.
- Tindak lanjut jika negatif: jika hasilnya negatif, pemberian vaksin lanjutan disesuaikan berdasarkan penilaian tenaga medis, dan tidak semua kasus gigitan harus diakhiri dengan pemeriksaan kepala hewan.
Poin penting: vaksin VAR pertama selalu diberikan segera setelah gigitan — warga tidak perlu dan tidak boleh menunggu hasil lab keluar dulu sebelum ke puskesmas.
Apa yang Harus Dilakukan Warga Jika Digigit Anjing?

Mengacu pada prosedur resmi di atas, berikut langkah yang wajib diikuti warga Toraja Utara maupun daerah lain dengan risiko rabies serupa:
- Cuci luka segera dengan air mengalir dan sabun selama minimal 15 menit.
- Datangi puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat secepatnya untuk mendapat suntikan VAR pertama — jangan ditunda meski luka terlihat kecil.
- Jangan membunuh atau melepas hewan yang menggigit jika masih bisa diamankan; hewan perlu diobservasi atau kepalanya diperiksa untuk memastikan status rabies.
- Laporkan kasus gigitan ke petugas kesehatan hewan setempat agar sampel bisa dikirim ke BBVet Maros.
- Selesaikan seluruh dosis vaksin sesuai jadwal yang ditentukan tenaga medis, meski gejala tidak muncul.
Mengapa Anjing Peliharaan Sendiri Bisa Jadi Sumber Penularan?
Kasus kematian pria 33 tahun di atas menunjukkan pola yang berulang di Toraja Utara: korban terinfeksi rabies justru dari anjing peliharaannya sendiri, bukan anjing liar. Ini sejalan dengan kebiasaan memelihara anjing yang dibiarkan berkeliaran bebas tanpa vaksinasi rutin, sebuah pola yang sudah lama diidentifikasi sebagai faktor risiko utama penularan rabies di wilayah ini oleh kalangan akademisi dan pemerhati kesehatan hewan setempat.
Karena itu, memvaksinasi anjing dan kucing peliharaan — termasuk anak anjing yang baru dipungut dari jalan — sama pentingnya dengan mewaspadai hewan liar.
FAQ — Rabies di Toraja Utara
Berapa jumlah anjing positif rabies di Toraja Utara tahun 2026?
Sebanyak 58 ekor anjing dinyatakan positif rabies dari 438 sampel yang diperiksa BBVet Maros sepanjang Januari–Juni 2026, dan angka ini berpotensi bertambah karena sampel awal Juli masih dalam proses.
Apa yang harus dilakukan jika digigit anjing di Toraja Utara?
Cuci luka dengan air mengalir dan sabun, segera ke puskesmas untuk suntikan vaksin anti rabies pertama, jangan menunggu hasil lab, dan laporkan kasus gigitan agar kepala hewan bisa diperiksa di BBVet Maros.
Apakah anjing peliharaan bisa membawa rabies meski tidak terlihat sakit?
Bisa. Kasus di Toraja Utara menunjukkan korban justru tertular dari anjing peliharaan sendiri, termasuk anak anjing, sehingga vaksinasi rutin hewan peliharaan tetap wajib meski hewan terlihat sehat.
Artikel ini disusun berdasarkan liputan Tribun Timur (7 Juli 2026), detik.com, dan Harian Fajar terkait situasi rabies di Kabupaten Toraja Utara. Data akan diperbarui mengikuti rilis resmi Dinas Perikanan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Toraja Utara.
Baca juga: tanda hewan peliharaan sakit yang tidak boleh diabaikan, panduan menjinakkan anjing dari bayi hingga dewasa, kesalahan fatal yang membahayakan anjingmu, dan panduan harian cuci kandang dan cek kesehatan hewan untuk menjaga hewan peliharaan tetap sehat dan terpantau.